Desain Untuk Apa?: Sebuah Esai Reflektif Mengenai Makna dan Signifikansi Desain bagi Penulis
Kumpulan karya desain saya semasa saya SMP hingga SMA | Dok. Pribadi
Jauh sebelum saya paham desain sebagai proses, Saya baru mengenali desain sebagai kata benda. Lahir dari bohlam ide seseorang, kemudian dituangkan ke dunia fisik dengan kertas dan tinta. Dan bila beruntung, guratan di atas kertas itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar dan lebih nyata. Bila ada sesuatu yang saya rasa terlihat bagus atau mengagumkan, saya akan berkata bahwa benda itu desainnya bagus. Kalimat itu muncul ketika saya menyadari bahwa ada suatu fitur, baik itu bentuk, siluet, atau detail yang saya pikir adalah hal yang keren. Saya menduga bahwa pengenalan saya terhadap dunia desain dimulai dari ajaran orang tua saya untuk membantu menerjemahkan rasa kagum dan penasaran saya terhadap hal-hal yang saya temui di dunia.
Beberapa tahun berlalu, saya menemukan berbagai macam hal yang membantu saya memahami makna desain sebenarnya. Dari sekian banyak, ada empat yang saya pikir cukup penting: Google, YouTube, Microsoft PowerPoint, dan Adobe Illustrator. Tiga hal ini secara urut membantu saya mengembangkan selera, apresiasi, dan kepekaan desain, memahami apa itu desain dari perspektif orang lain, mengenalkan saya terhadap dunia profesi desain grafis, dan memberi saya sebuah headstart untuk memperdalam kemampuan saya dalam merancang desain visual. Bermula dari menggambar dari imajinasi saya, lalu membuat presentasi untuk tugas sekolah, hingga menggambar kereta dengan riset dan penelitian yang mendalam.
Mengetahui apa itu desain telah mengubah cara saya memandang dunia dan lingkungan di sekitar saya. Yang paling saya sadari adalah kepekaan akan desain, lebih tepatnya berusaha memahami apa saja alasan, faktor, dan keputusan yang kemudian menghasilkan suatu desain. Sebagai contoh, pada suatu hari saya sedang melakukan riset tentang livery kereta. Livery mengacu pada cat eksterior yang digunakan sebagai alat identifikasi, media informasi, serta penambah estetika pada sebuah kendaraan.
![]()
Lokomotif CC 201 48 mengenakan livery Perumka 'RnB' | Wibowo Djatmiko (Wie146), CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons
Pada tahun 1991, Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) mengganti logo mereka menjadi logo ‘Z’ berwarna jingga. Mengikuti perubahan logo, perusahaan juga mengganti livery eksterior kereta dari yang sebelumnya cenderung acak menjadi warna biru-merah dengan aksen putih. Salah satu fitur yang menarik pada livery ini adalah penggunaan warna sebagai identitas kelas kereta. Merah untuk ekonomi, hijau untuk bisnis, dan biru muda untuk eksekutif dan kelas spesial. Ini adalah salah satu contoh penerapan paling awal bahasa desain yang konsisten dan fungsional pada dunia perkeretaapian di Indonesia. Memanfaatkan warna untuk memandu penumpang ke kereta mereka.
Lokomotif CC 203 01 menghela KA Argo Gede dengan livery Perumka 'WnB' | Alm. M.V.A Krishnamurti
Kemudian pada tahun 1995, sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) IV pada era Soeharto, Perumka meluncurkan kereta penumpang dan lokomotif baru bernama Argo Gede dan Argo Bromo untuk rute Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya. Kereta ini tetap menggunakan logo ‘Z’ yang sama, namun palet warnanya berubah drastis. Dari dominan merah-biru menjadi dominan putih dengan aksen biru. Kereta baru ini terkesan bersih, modern, dan mewah, mungkin terlalu mewah.
![]()
Lokomotif CC 201 94 dengan livery Perumka 'WnB' | Mark Fischer, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Sejak peluncurannya, kereta-kereta baru lainnya pun menyusul dalam upaya modernisasi perkeretaapian Indonesia. Namun seiring waktu, sebuah pergesekan antar lapisan masyarakat mulai tumbuh. Orang-orang mulai menumbuhkan persepsi bahwa kereta putih adalah kereta orang mewah, dan kereta merah adalah kereta orang miskin. Rasa iri pun muncul setiap kereta putih ini muncul, karena faktanya memang kereta ini memiliki prioritas lebih tinggi dalam grafik perjalanan KA, membuat kereta dibawahnya mengalah. Untuk mencegah konflik yang lebih jauh, Perumka mulai mengganti livery keretanya yang lama, menyeragamkannya dengan para pemain baru. Kasus ini menjadi contoh bagaimana desain dapat menjadi salah satu faktor konflik antar masyarakat dan sekaligus menjadi solusi untuk menyembuhkan citra sebuah perusahaan.
Menyadari dan memahami hal-hal seperti ini membuat pemahaman saya terhadap desain menjadi luas. Namun, apa gunanya sebuah ilmu bila tidak diterapkan dan diolah menjadi manfaat? Maka dari itu, saya mencoba untuk memanfaatkan apa yang saya tahu tentang desain dalam untuk membantu siapa pun yang membutuhkannya. Salah satunya adalah ketika saya mendesain logo untuk usaha orang tua teman saya. Teman saya pada saat itu menyarankan saya kepada orang tuanya untuk mendesain logo untuk toko mereka. Pada saat itu pengetahuan saya tentang desain masih tergolong sempit, tapi cukup untuk mendesain sebuah logo sederhana.
Sketsa logo untuk Toko Besi Surya Jaya | Dok. Pribadi
Nama usahanya adalah Surya Jaya, sebuah toko bahan dan peralatan bangunan yang berlokasi di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Saya mulai dengan menelaah logo lamanya, kemudian memahami kemauan klien, yang pada saat itu diperantarai oleh teman saya. Setelah memahami pesanannya, saya kemudian melakukan sketching dan eksplorasi yang bisa dikatakan cukup singkat. Akhirnya saya pilih salah satu opsinya dan saya kembangkan di Adobe Illustrator agar menjadi logo yang matang. Setelah versi akhir sudah ditetapkan, saya buatkan turunan variasi agar logo tersebut fleksibel digunakan di media mana pun. Pada saat itu mereka utamanya membutuhkan logo untuk baju karyawan mereka. Dan pada akhirnya saya pun kembali berbicara dengan teman saya untuk mengetahui apakah diperlukan revisi atau ingin memberi masukan terhadap desain logo. Ternyata sang klien sudah cocok dengan desainnya. Pekerjaan pun ditutup dengan saya mengirim file .png logo dan teman saya memberi bayaran sebesar Rp200.000 di tempat les kami.
Output Final Logo Toko Besi Surya Jaya | Dok. Pribadi
Walau tidak seintens berhadapan dengan klien di dunia industri, pengalaman ini tetap saya anggap sangat berharga bagi saya. Saat itu merupakan kali pertama saya dipandang serius sebagai seorang desainer kompeten. Dan sejak itu, saya memberanikan diri untuk menyelam lebih jauh ke dalam dunia desain. Dari yang awalnya hanya memandang dan menikmati desain sebagai benda semata, saya sekarang berperan aktif dalam proses mendesain dan merancang suatu desain. Saat ini, desain yang berfungsi, bermanfaat, dan berorientasi pada manusia semakin dibutuhkan di zaman ketika desain bisa diolah oleh mesin dengan rantaian kata-kata saja. Saya pribadi menetapkan sebuah janji terhadap diri saya sendiri, bahwasanya saya akan selalu bersedia dan berusaha membuat dunia di sekitar saya menjadi lebih baik dengan mengerahkan seluruh ilmu, kebijakan, dan kemampuan saya di dalam industri profesional yang akan saya masuki.

Comments
Post a Comment